Jumaat, 7 Oktober 2011

Izin Allah Yang Sudah Diizin.

Teringat aku dulu masa Tok Perak datang bersama rakannya untuk mengajak aku masuk program GDI. Kami minum teh tarik di kedai makan kat area rumah aku. Rakan Tok Perak sempat menunjukkan satu “pendant” batu lahar gunung berapi yang pernah kecoh suatu ketika dulu, sambil dia mengaitkan “khasiat” batu tu dengan izin Allah. Bab “pendant” tu cerita lain, skang aku nak cerita pasal Izin Allah.

Izin Allah ni ada dua, pertama izin yang sudah diizin, dan yang kedua izin yang belum diizin. Bagi aku, ayat Al-Quran termasuk dalam kategori Izin Allah yang TELAH diizin, kecuali jika Allah tidak mengizinkannya. Dan jika Allah tidak mengizinkan, pasti bersebab, contohnya jika pesakit ada menyimpan benda syirik seperti azimat atau tangkal, maka barulah Allah tidak beri izin.

Ayat Al-Quran TELAH pun diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dan umatnya. Maka pastilah kesan dan khasiatnya telah pun dizinkan Allah. Jadi anda tak perlu pening sekiranya ada orang yang mengatakan “ayat tidak memberi bekas” kerana ia hanyalah pernyataan untuk mengelakkan syirik. Yakni kebergantungan kepada ayat bukan kepada Allah.

Pernyataan seperti itu digunakan oleh mereka yang belajar tasauf, “ayat tidak memberi bekas, yang memberi bekas adalah Allah”. Pernyataan ini samalah seperti “api tidak membakar, yang membakar adalah Allah” kerana hanya dengan qudrat dan iradat Allahlah sesuatu terbakar.

Api juga termasuk dalam izin yang sudah diberi izin. Dengan qudrat dan iradat Allah, api itu membakar, kecuali jika Allah tidak mengizinkannya membakar seperti mana yang berlaku kepada Nabi Ibrahim.

Al-Quran itu Kalam Allah (kata-kata Allah), automatik telah ada berkah, qudrat dan iradat Allah. Jika sudah kata-kata Allah, jadilah ia, melainkan jika Allah tidak mengizinkannya.

0 ulasan:

Catat Ulasan